Cerpen santri

Ada Yang Tertinggal di Pesantren
oleh : Fairuz Al-Ghorshiqy

         Kesiur angin menggesekan batang tubuh bambu kuning di belakang angkring[1] pada badan tubuhnya yang lain, menimbulkan suara gaduh yang selalu ingin membuatku kembali bertandang. Pagi cerah menyambut ramah, udara bersih tak berpolusi belum banyak terkontaminasi. Disini masih 1 kilo-an dari jalan raya, cukup ada antara pemisah jiwa dari kompetisi dunia. Di taman asrama, buah juwet yang mulai memerah magenta seolah melambai-lambai ingin dicicipi. Memoriku berputar pada kenangan cerita masa santri puluhan tahun silam. Tidak banyak yang berubah di sini, mushola yang sama bangunan asrama yang sama, sampai bancik kaki, samua masih sama, hanya beberapa bangunan yang perlu direnovasi saja yang mengalami perubahan.
Sesekali aku melihat tubuhku dan menepuk-nepuk pipiku keheranan, rasanya seperti mimpi saja, aku dulu sangat kurus mengingat waktu dulu masih di pondok, meskipun awal aku masuk pondok aku tampak gendut tapi entahlah tubuhku menyusut hampir 20 kilo setelahnya. Dan lihatlah aku sekarang, mungkin akan aku marahi siapa saja yang berani-beraninya memanggilku langsing.
Kulangkahkan kakiku menuju tampat wudlu, kubasuh wajahku dengan air kolam wudlu. “Ini dulunya hanya sumur kecil dengan pompa air di atasnya” kenangku, aku ingat bagaimana harus mengantri hanya untuk menimba satu bak air. Sambil mengantri biasanya kubawa nadhom hafalanku, atau kalau sedang malas sesekali kubawa surat kabar bekas yang menumpuk di kamar sambil menunggu giliran menimba.
            Dulu kelancaran dan kecepatan hafalan adalah ajang pertaruhan gengsi. Menjadi yang tercepat dan paling lancar adalah kebanggaan bagi santri pada zaman itu. Aku merasa paling bodoh waktu itu, tujuh bulan menghatamkan Alfiyah sepertinya aku adalah santri paling kesot dan malas, padahal karibku bisa menghafal Alfiyah dalam rentang waktu hanya sepuluh hari.
            Kupandangi sekeliling asrama dan kulihat angkring tempat santri-santri biasa merefleksikan diri sambil menghafal nadhom sedang kosong. Langsung saja aku berjalan ke sana dan duduk. “Asrinya, subhanallah” ingatanku bergulir mengingat pembangunan angkring ini dulu.
Dulu kawan-kawanku termasuk aku yang berinisiatif untuk mendirikan angkring ini. Cukup patungan 5 perak untuk konsumsi pembangunan dan membeli alat-alat tukang. kami tidak perlu membeli bahan bangunan, sebab di sekitar pondok banyak bambu-bambu untuk kerangka dan dinding angkring. Tapi dulu, angkring ini ukuranya masih belum sebesar ini.
            Kurebahkan punggungku sejenak di sini. Perjalanan Gresik-Tuban cukup menguras tenagaku yang sudah tak muda lagi. “Alhamdulillah” kusandarkan kepalaku di bantalan kayu dari jati yang dipapas tengahnya seukuran kepala.
            Lamat-lamat kupandangi seperti ada yang janggal saat aku melihat sebuah mushaf tua ditaruh di rangka atap angkring. Mushaf tua yang hampir memudar warnanya menjadi kecoklatan, setengah sampulnya sudah hilang dan terlihat sebuah nama dibubuhkan di sana, “ROZIKIN” dalam ejaan arab dengan khot kufi. Kepalaku mengerut dan mengingat sebuah nama “Ini punya anak sekamarku dulu nih.”
Entah ke mana dia sekarang, terakhir dia mengabariku menjadi guru honorer di pelosok Jambi. Namun bukan itu yang membuatku terheran, tulisan yang sudah puluhan tahun itu tidak luntur meskipun sebagian kertasnya tampak menghilang kabur, mungkin terkena tetesan air hujan. Aku ingat saat membantu Rozikin membuat tinta dari jelaga itu bersamaku. “Tinta embak, termyata memang terbukti tahan lama”. Batinku
            Kubolak-balik Al-Qur’an cetakan Kudus itu, ternyata masih bagus. Hanya beberapa halaman yang mulai lapuk termakan usia. Ku kembalikan lagi mushaf itu ke tempatnya. Aku tidak bisa membayangkan berapa banyak pahala Rozikin dari waqafnya ini. Walau hanya satu mushaf. Namun andai kata ada lima anak yang telah menghafalkan Al-Qur’an dengan waqafnya, setiap anak memiliki sepuluh murid dan setiap muridnya memiliki sepuluh murid lagi, tidak dapat kubayangkan berapa jumlah pahala yang secara otomatis mengalir untuknya juga.
            Matahari semakin tinggi, hari semakin siang dan panas. Aku bangkit lalu berjalan mengelilingi asrama. Lalu-lalang santri terlihat riuh dengan aktifitas masing-masing. Beberapa bergerombol membawa kitab-kitab, hendak berangkat sekolah. Beberapa lagi sedang bergerombol melingkar, mengelilingi nampan, hendak sarapan.
Di pojok halaman ada yang sedang bercukur, sambil menyelimuti tubuhnya dengan sarung dan memegang kaca spion sepeda motor. Aku menahan tawa, ada-ada saja yang dilakukan santri itu. Ada saja ulah menarik bin aneh yang mereka lakukan. Sampai memoriku berputar mengingat saat aku masih tinggal di sini. Gayung yang umumnya dibuat untuk mandi, di sini bisa beralih fungsi menjadi gelas super besar yang memungkinkan untuk dapat mengambil jatah Es Temu paling banyak. Es Temu adalah idola santri sebagai minuman utama sehabis mayoran atau liwetan. Harganya yang relatif murah dan banyak, menjadi alasan utamanya.
“Masih adakah es temu itu, atau sudah punahkah?”. Sambil bergeleng pipiku melebarkan senyum.
            Aku membayangkan betapa serunya liwetan waktu itu. Setiap anggota masak mendapatkan jatah tugas masing-masing. Ada yang bertugas berbelanja, menanak nasi, menyiapkan bumbu, memasak lauk, hingga menyiapkan perapian. Dan yang terakhir itu selalu menjadi tugasku. Kayu bakar aku kumpulkan sepulang sekolah dan kusimpan untuk empat hingga lima kali memasak. Jadi tugasku lebih ringan, karena cukup dilakukan dua kali sehari.
Jika dipikir-pikir susah sekali hidup di zaman itu, apalagi kalau musim penghujan mulai dekat. Aku bersama teman-teman yang membantu, bekerja ekstra untuk mencari kayu bakar lebih banyak, untuk persediaan sepuluh hingga lima belas hari ke depan.
            Kebetulan ini hari selasa, yang merupakan hari rayanya santri ibtida’ selain hari jum’at juga, sebab musyawarah pagi diliburkan setiap hari selasa. Lagi-lagi aku jadi tersenyum-senyum sendiri mengingat perasaanku pertama kali masuk pondok ini. Hari selasa pertamaku aku diajak Rozikin, teman pertamaku di pesantren ke Kota Babat sambil berjalan kaki dari pondok. Jauh sekali jaraknya, sekitar dua kilo meter, dan kami menempuhnya pulang-pergi dengan berjalan kaki. total empat kilo kami berjalan kaki. Sungguh jarak yang mustahil aku tempuh sambil berjalan kaki tanpa tujuan untuk sekarang ini.
Tapi anehnya, saat berangkat dulu kami tidak pernah merasa berat apalagi mengeluh, sebab senang rasanya bisa jalan-jalan sambil menghilangkan penat. Walau sering kali hanya berniat jalan-jalan pergi saja, tanpa membeli kebutuhan. Yah, karena bagi kami yang penting jalan-jalan, hehe.
@@@
“Sisa berapa truk pasirnya?” tanyaku pada mandor pembangunan asrama.
“Ini yang terakhir pak!.” jawabnya sambil tergopoh-gopoh lari menuju tempatku. Aku tersenyum, mempersilahkanya melanjutkan tugas.
Aku menyadari dan meyakini, bahwa kesuksesan bukan dibangun dari kemudahan hidup. Aku selalu mengingat filosofi hidup, tentang bagaimana genting rumah bisa mendapat kedudukan paling tinggi dalam struktur rumah, karena dia diciptakan dari tanah liat yang dicetak dengan kasar, dibanting, dijemur dan dibakar dalam bara api. Menghasilkan genting yang kuat dan kokoh sehingga mampu melawan kejamnya panas matahari dan dinginnya badai.
“Ini yang terakhir gus!.” aku mengulang jawaban mandorku dan menirunya, tergopoh setengah berlari menyambut tangan Gusku yang baru keluar dari ndalem Abah Kiai. Kami menyambung pembicaraan pembangunan asrama baru, aku sarankan untuk melakukan beberapa hal mulai dari memilih bahan bangunan dan yang lainnya. Akupun menyanggupi untuk material, insya Allah.
Pesan moral yang gusku sampaikan disela perbincangan kami tadi adalah, Ridlo kiai adalah segalanya. Karena sebagus apapun genting yang dijual, jika tak diharapkan oleh pembeli dan tak laku, sama halnya dengan barang-barang rusak yang tidak akan dilirik oleh siapapun. Dibiarkan tergeletak dan hanya menyesakkan gudang, sampai pada akhirnya dibuang atau dijual murah oleh penjualnya.


[1] Sebutan untuk rumah bambu sejenis gubuk yang dihuni para santri salaf.

Komentar

Posting Komentar