Cerpen santri
Ada Yang Tertinggal di Pesantren oleh : Fairuz Al-Ghorshiqy Kesiur angin menggesekan batang tubuh bambu kuning di belakang angkring [1] pada badan tubuhnya yang lain, menimbulkan suara gaduh yang selalu ingin membuatku kembali bertandang. Pagi cerah menyambut ramah, udara bersih tak berpolusi belum banyak terkontaminasi. Disini masih 1 kilo-an dari jalan raya, cukup ada antara pemisah jiwa dari kompetisi dunia. Di taman asrama , buah juwet yang mulai memerah magenta seolah melambai-lambai ingin dicicipi. Memoriku berputar pada kenangan cerita masa santri puluhan tahun silam. Tidak banyak yang berubah di sini, mushola yang sama bangunan asrama yang sama , sampai bancik kaki , samua masih sama, hanya beberapa bangunan yang perlu direnovasi saja yang mengalami perubahan. Sesekali aku melihat tubuhku dan menepuk-nepuk pipiku keheranan, rasanya seperti mimpi saja, aku dulu sangat kurus mengingat waktu dulu masih di pondok, meskipun awa...